jadwalpialadunia – Dunia sepak bola Inggris diguncang oleh pernyataan mengejutkan dari manajer Manchester City, Pep Guardiola, yang secara terbuka memuji sosok Pep Lijnders sebagai salah satu tokoh penting di balik kesuksesan terbaru The Citizens. Pernyataan ini menimbulkan banyak pertanyaan: sejak kapan Lijnders terlibat di City? Apa perannya? Dan apakah ini menandai arah baru dalam filosofi taktik Guardiola?
Bagi sebagian besar penggemar sepak bola, Pep Lijnders lebih dikenal sebagai tangan kanan Jurgen Klopp di Liverpool selama hampir satu dekade. Tapi setelah kepergian Klopp dari Anfield, Lijnders memutuskan mengambil jalur berbeda — dan tanpa banyak publikasi, ternyata ia mulai terlibat dalam proyek pengembangan di Manchester City.
Kini, Pep Guardiola sendiri yang mengungkap bagaimana kehadiran Lijnders membawa warna baru dalam pendekatan City. Apakah ini awal dari duet taktik paling brilian di Premier League?
Siapa Pep Lijnders?
Bagi yang belum familiar, Pepijn “Pep” Lijnders adalah pelatih asal Belanda yang dikenal karena pendekatan taktik progresif dan filosofinya soal “pressing, possession, dan positioning.” Ia memulai karier di akademi PSV Eindhoven, lalu pindah ke FC Porto sebelum akhirnya dikenal luas sebagai asisten utama Jurgen Klopp di Liverpool sejak 2018.
Selama bersama Klopp, Lijnders banyak berperan dalam sesi latihan taktis, pengembangan pemain muda, dan membentuk gaya “gegenpressing” khas Liverpool. Ia juga dikenal sebagai pelatih yang fokus pada detail dan transisi permainan cepat. Bisa dibilang, Lijnders adalah arsitek lapangan dari ide-ide besar Klopp.
Setelah Klopp meninggalkan Liverpool di akhir musim 2023/24, Lijnders menyatakan niat untuk memulai proyek baru — dan saat itu belum jelas ke mana ia akan pergi. Tapi seperti bayangan di balik layar, ia ternyata diam-diam berkolaborasi dengan Guardiola di Manchester City.
Kolaborasi Tak Terduga: Guardiola & Lijnders
Dalam konferensi pers terbaru usai kemenangan besar City atas Chelsea di Community Shield 2025, Guardiola mengungkap sebuah fakta mengejutkan:
“Saya belajar banyak dari Pep (Lijnders). Berita Bola Beberapa ide tentang pressing dan rotasi pemain tengah kami adaptasi dari apa yang dia bawa. Dia punya cara melihat celah yang berbeda dari saya — dan itu sangat menyegarkan.”
Pep Guardiola juga menambahkan bahwa Lijnders menjadi “mata dan otak tambahan di lapangan,” terutama dalam menganalisis lawan dan merancang strategi pertandingan.
Walau belum memiliki jabatan resmi sebagai asisten pelatih di City, Lijnders kini diketahui terlibat sebagai konsultan teknis internal, fokus pada analisis dan pengembangan model permainan City yang lebih dinamis dan fleksibel.
Dampak Langsung di Lapangan
Musim 2025/26 baru berjalan beberapa pekan, namun tanda-tanda perubahan dalam pendekatan Manchester City sudah terlihat:
-
Tekanan Lebih Agresif
City kini tidak hanya mendominasi penguasaan bola, tapi juga aktif menekan lebih tinggi dengan pola yang mirip Liverpool era 2019. Terlihat bagaimana gelandang seperti Bernardo Silva dan Phil Foden kini mengambil peran lebih agresif dalam mencegah build-up lawan.
-
Full-back Invert Fleksibel
Ide inverted full-back Guardiola kini dikombinasikan dengan pola Lijnders: terkadang bek kanan naik menutup lini tengah, kadang malah overlapping secara tiba-tiba. Variasi ini membuat serangan City lebih tak terduga.
-
Pola Transisi Lebih Cepat
Salah satu ciri khas Lijnders adalah transisi secepat mungkin dari bertahan ke menyerang. Kini, saat City merebut bola, dalam waktu kurang dari 5 detik bola bisa berada di kotak penalti lawan — sesuatu yang sebelumnya hanya efektif dilakukan Liverpool.
-
Rotasi Gelandang Tengah Lebih Berani
Formasi 3-2-2-3 yang digunakan City kini lebih hidup berkat keberanian dalam merotasi posisi antar gelandang. Rodri kini kadang bergeser ke kiri, memberi ruang pada Gvardiol atau Stones untuk naik ke tengah — pola khas ala total football Belanda.
Respon dari Dunia Sepak Bola
Pujian Guardiola terhadap Lijnders mendapat banyak respons dari media, pengamat, dan mantan pemain. Gary Neville bahkan menyebut kolaborasi ini sebagai “pernikahan dua otak terbaik di dunia taktik saat ini.”
Jamie Carragher menulis di kolom pribadinya:
“Kehilangan Lijnders adalah kerugian besar bagi Liverpool. Tapi bagi Guardiola, ini jackpot. Kalau dua pelatih ini benar-benar berkolaborasi penuh, maka Manchester City akan makin sulit dihentikan.”
Bahkan Jurgen Klopp dalam wawancara ringan sempat menyebut:
“Saya tahu Pep (Lijnders) tidak akan menganggur lama. Dia orang jenius, dan saya yakin Guardiola melihat itu sejak lama.”
Strategi City: Menyiapkan Suksesi Guardiola?
Pernyataan Guardiola tentang Lijnders juga memunculkan spekulasi menarik. Kontrak Guardiola di Manchester City akan habis pada 2026, dan banyak yang percaya musim ini atau musim depan bisa jadi tahun terakhirnya.
Dengan Lijnders kini dekat dengan proyek City, bisa jadi ini adalah langkah awal menyiapkan suksesi alami. Sosok Lijnders yang berkarakter tenang, visioner, dan memiliki DNA sepak bola menyerang sangat cocok melanjutkan fondasi yang sudah dibangun Pep.
Ditambah, Lijnders punya pengalaman membentuk tim muda, yang bisa menyempurnakan generasi baru City pasca Haaland, De Bruyne, dan Rodri.
Bagaimana Reaksi Internal Tim?
Menurut laporan dari The Athletic dan Marca, para pemain City merespons positif pendekatan baru ini. Beberapa bahkan merasa sesi latihan kini lebih bervariasi dan menantang secara mental.
-
Phil Foden mengatakan:
“Kami diajak berpikir, bukan hanya berlari. Itu tantangan baru, dan saya suka.”
-
John Stones juga menambahkan:
“Ada elemen taktis yang lebih intens. Kami dituntut memahami lebih dari satu peran setiap pekan.”
Kehadiran Lijnders membuat suasana latihan lebih fleksibel, tidak terlalu “steril” seperti era Guardiola murni. Ada ruang eksplorasi dan improvisasi yang lebih besar.
Risiko di Balik Kolaborasi Besar
Meski tampak ideal, kolaborasi antara dua pelatih dengan ego dan visi kuat seperti Guardiola dan Lijnders tentu tidak tanpa tantangan.
-
Pertarungan ide?
Bisa saja perbedaan filosofi menimbulkan friksi jika tidak dikelola dengan saling percaya.
-
Kepemimpinan ganda?
Jika suatu saat Guardiola mundur, apakah Lijnders siap menjadi manajer utama yang menangani tekanan besar di klub sekelas City?
-
Konflik internal tim?
Terlalu banyak perubahan bisa membuat beberapa pemain merasa kehilangan kejelasan taktik. Namun sejauh ini, Guardiola menunjukkan kedewasaan luar biasa. Ia tidak merasa terancam, justru membuka ruang untuk kolaborasi yang menguntungkan tim.
Era Baru di Manchester City?
Langkah Pep Guardiola memuji dan memanfaatkan ide-ide Pep Lijnders adalah bukti bahwa bahkan pelatih terbaik dunia pun masih mau belajar dan berinovasi. Ini bukan soal siapa lebih hebat, tapi bagaimana dua otak besar bersatu demi satu hal: kemenangan. Jika kolaborasi ini terus berjalan, City bukan hanya akan jadi tim dominan secara fisik dan teknikal, tapi juga jadi laboratorium sepak bola modern yang jadi panutan dunia. Pep dan Pep. Dua nama, satu visi. Era baru Manchester City mungkin baru saja dimulai.