jadwalpialadunia.info -Kadang, sepak bola itu nggak bisa ditebak. Klub besar dengan skuad ratusan juta pound bisa kalah dari tim kasta keempat. Dan itulah yang terjadi di laga Man Utd vs Grimsby. Bukan cuma kalah, tapi kalah dengan cara paling pahit: dua blunder kiper, permainan kaku, dan adu penalti marathon yang berakhir 12–11.
Bayangkan, stadion kecil Blundell Park yang biasanya sepi tiba-tiba jadi panggung sejarah. Fans Grimsby bersorak, invasi lapangan, seolah baru juara Liga Champions. Sementara fans United? Menunduk, antara marah dan malu.
Onana, Dari Kiper Elite Jadi Biang Masalah
Semua orang tahu Andre Onana datang dengan label kiper modern, jago distribusi bola, dan mental baja. Tapi di sini, yang muncul justru sisi terburuknya. Gol pertama? Tendangan Charles Vernam sebenarnya bisa ditepis, tapi Onana kalah di tiang dekat. Gol kedua? Bola mati yang gampang ditebak, tapi dia malah salah langkah dan Tyrell Warren dengan mudah menghukum mantan klubnya.
Kalau dihitung, Onana cuma berhasil menepis 1 dari 13 penalti di babak adu tos-tosan. Itu pun rasanya lebih kebetulan daripada skill. Sisanya? Gol, gol, dan gol. Tak heran kalau rating pemainnya jatuh sampai 2/10. Fans di sosial media langsung meledak, sebagian bahkan bilang: “Onana ini kiper atau penonton VIP?”
Grimsby Main Lepas, United Malah Tercekik
Yang bikin tambah ironis, United datang dengan skuad yang nilai transfernya lebih dari £400 juta, sementara Grimsby isinya pemain-pemain yang kalau gaji dibandingkan, mungkin kalah jauh sama bonus mingguan bintang MU. Tapi di lapangan, yang terlihat justru kebalikannya.
Grimsby main lepas, penuh energi. Kieran Green di lini tengah jadi motor serangan, bolak-balik bikin Kobbie Mainoo sama Manuel Ugarte kehilangan kontrol. Bahkan Cameron Gardner sempat bikin gol yang bikin stadion bergemuruh, meski akhirnya dianulir.
United? Kaku. Sulit bikin peluang. Benjamin Sesko, yang seharusnya jadi mesin gol baru, justru tenggelam. Dua kali punya peluang emas, tapi semua dimentahkan kiper Christy Pym. Debut yang pahit.
Maguire: Disorot, Dicemooh, Tapi Tetap Penyelamat
Kalau ada cerita ironis di laga ini, namanya Harry Maguire. Bek jangkung ini sering jadi bahan olok-olok. Tapi justru dia yang menyelamatkan United di menit krusial. Sundulannya di menit ke-89 bikin skor 2–2 dan memaksa laga lanjut ke adu penalti.
Masalahnya, kalau ditarik mundur, Maguire juga ikut andil dalam kebobolan. Lengah di situasi bola mati, kalah duel udara, dan sempat hampir bikin blunder lain yang untungnya dianulir karena offside. Jadi, kalau ratingnya 5/10, ya wajar. Maguire malam itu ibarat dua sisi koin: sekaligus pahlawan dan pesakitan.
Drama Penalti 12–11: Dari Harapan Jadi Aib
Masuk babak penalti, fans United sempat lega. Pemain demi pemain sukses eksekusi, bahkan Onana pun sempat mencetak gol. Tapi semua berubah di penalti kelima. Matheus Cunha, yang seharusnya jadi penutup drama, gagal. Tendangannya ditebak, dan semua kembali ke titik nol.
Laga berlanjut ke sudden death panjang, skor melebar sampai 12–11. Pada akhirnya, pahlawan palsu itu bernama Bryan Mbeumo. Dari penyelamat di waktu normal, dia berubah jadi pesakitan. Tendangannya di babak kedua sudden death membentur mistar. Fans Grimsby langsung meledak, masuk ke lapangan, dan merayakan malam paling bersejarah dalam hidup mereka.
Di sisi lain, fans United cuma bisa melihat tim kebanggaan mereka disingkirkan tim kasta keempat. Sebuah luka yang bakal lama sembuhnya.
Rating Pemain MU vs Grimsby
Buat yang penasaran, berikut rating pemain United di laga penuh drama ini:
-
Andre Onana (2/10) – Blunder fatal, gagal jadi penyelamat penalti.
-
Tyler Fredricson (3/10) – Gugup, gampang dilewati, ditarik di babak kedua.
-
Harry Maguire (5/10) – Heroik lewat gol, tapi ikut kecolongan di belakang.
-
Ayden Heaven (5/10) – Lumayan tenang, sempat blok penting.
-
Diogo Dalot (4/10) – Mudah ditembus sayap lawan.
-
Kobbie Mainoo (5/10) – Satu-satunya starter yang terlihat berusaha.
-
Manuel Ugarte (4/10) – Hilang dalam duel fisik, minim pengaruh.
-
Patrick Dorgu (4/10) – Tak banyak kontribusi.
-
Matheus Cunha (5/10) – Main makin oke, tapi gagal penalti penentu.
-
Benjamin Sesko (4/10) – Debut kelam, peluang gagal dimanfaatkan.
-
Amad Diallo (4/10) – Flat, ga ada ancaman berarti.
Secara garis besar, hampir semua pemain tampil di bawah standar. Fans jelas kecewa.
Apa Makna Kekalahan Ini?
Kekalahan ini lebih dari sekadar tersingkir di Piala Liga. Ini soal mental. Ruben Amorim bisa saja bilang ini “rotasi” atau “eksperimen skuad,” tapi kenyataannya: tim sekelas Manchester United ga boleh kalah dari Grimsby. Apalagi dengan cara seburuk ini.
Buat Amorim, kekalahan ini jadi ujian pertama. Fans mulai bertanya-tanya, apakah proyek barunya ini beneran punya arah, atau justru United masih stuck di lingkaran kegagalan.
Dan kalau dipikir-pikir, skor 12–11 lawan Grimsby ini bukan sekadar angka. Ini akan jadi headline yang lama menempel, apalagi diperparah oleh blunder Onana yang jadi simbol kekacauan tim.
Laga Man Utd vs Grimsby akan tercatat sebagai salah satu malam paling memalukan dalam sejarah modern Setan Merah. Dari blunder Onana, permainan kaku, sampai adu penalti marathon yang bikin muka merah, semuanya lengkap.
Buat fans United, ini bukan cuma kekalahan. Ini tamparan. Dan mungkin juga peringatan keras bahwa membangun ulang tim butuh lebih dari sekadar nama besar pelatih atau harga mahal pemain.
Pertanyaannya, mampukah Amorim meredam badai kritik ini? Atau United akan terus jadi headline bukan karena prestasi, tapi karena drama?
Yang jelas, malam di Blundell Park ini bakal lama dikenang. Dan sayangnya, bukan untuk alasan yang membanggakan.